CINTA-NYA

Di dalam taman cinta-NYA,
Ia menabur benih kepedihan.
Merawatnya dengan garam dan air asin,
Demi mencintai yang Esa ini.
Dengan cinta yang dapat dia terima,
Kosongkan benakmu dari selain-NYA.
Campakkan cintamu pda selain-NYA.
Lalu cinta diri, lalu semua harapan,
Semua mimpi.
Terakhir campakkan pula cintamu pada-NYA.
Karena dalam kehadiran-NYA,
Tak pernah ada ruang tersisa bagimu

JILBAB..??

JILBAB???
APAKAH HANYA UNTUK MENUTUPI KEMUNAFIKAN DARI SESUATU EKSTENSI ATAU MENJAGA KESUCIAN CAHAYA ILAHI YANG DIBERIKAN KEPADA PEREMPUAN YANG BERFIKIR KEISTIMEWAAN PENCIPTANYA.

KEMANA KUCARI JATI DIRIKU

KENAPA SETIAP AKU MELAKUKAN IBADAH BELUM PERNAH KURASAKAN KENIKMATAN DARINYA?
APAKAH AKU SANGAT HINA DI HADAPANYA ATAU AKU SUDAH TERLAMPAU JAUH DARI APA YANG DIA TETAPKAN?

DEMOKRASI SEPERTI TAK ADA MATINYA

DEMONSTRASI SEPERTI TAK ADA HABISNYA

Demonstrasi seperti tak ada habisnya. Di sini demo, di sana demo. Iya kalau demonya itu demo masak? Kan bisa bikin orang kenyang karena incip-incip hasil masakannya? Tapi yang ini lain dengan demo masak itu. Kalau demonya tutup mulut, cuma membentangkan poster alias aksi damai, itu juga nggak masalah. Tapi ini, demo sambil teriak-teriak histeris, bawa pentung, bawa clurit, lempar-lempar batu, sambil pakai acara bakar membakar segala. Jelas saja sedikit banyak kondisi ini membuat orang-orang di sekelilingnya merasa ngeri. Sebisa mungkin yang namanya rakyat jelata itu yach....menyingkir saja,daripada nanti ada apa-apa. Anak istri menunggu di rumah dengan harap agar ayah dan suaminya pulang selamat. Yach... menyingkir saja jauh-jauh, daripadapulang tinggal nama.....Sekarang ini banyak sekali demonstrasi yang diiringi dengan tindak anarkis. Semua tindakan dibenarkan dan dihalalkan. Kayak dia yang punya negara ini saja. Tapi, itulah yang sedang terjadi di antara kita saat ini. Inilah yang sedang dihadapi oleh masyarakat kita. Ini pula yang menjadi tantangan bagi bangsa kita. Diakui atau tidak, bangsa Indonesia pada waktu-waktu ini sedang berperang dengan dirinya sendiri. Bukan dengan sesama manusia, tetapi dengan batinnyalah ia sedang bergulat. Apakah ia bisa mengendalikan dirinya sendiri? Bisakah ia menguasai emosinya di saat-saat yang paling menjengkelkan sekalipun? Perjuangan ini menuntut kemenangan. Akankah kita akan memenangkan pergulatan itu atau kita harus menyerah pada amarah yang tak terkendalikan...?? Demonstrasi atau unjuk rasa selalu ditimbulkan oleh rasa tidak puas terhadap peraturan yang ada. Tidak puas terhadap pelaksanaan peraturan. Tidak puas kepada para pemimpin yang menjalankan kekuasaan. Tidak puas pada kebijakan yang dikeluarkan oleh para penguasa. Termasuk rasa tidak puas karena diri sendiri tidak terpilih menjadi penguasa dan tidak puas karena bukan dirinya yang mengeluarkan kebijakan itu. Yeah, sejujurnya ketidakpuasan itu bukan hanya diperuntukkan bagi rakyat banyak saja, tapi juga untuk kepentingan sendiri kan?
Ketidakpuasan selalu dialami oleh siapa pun, termasuk oleh rakyat Indonesia. Dan, ketidakpuasan itu diungkapkan dengan berbagai cara. Wakil rakyat jadi tumpuan. Nyatanya, hasilnya nyaris tak nampak . Merasakan hidup yang nyaris tanpa perubahan, bahkan makin dikuya-kuya oleh penguasa, baik penguasa besar maupun penguasa kelas teri, membuat masyarakat kita menghentikan segala keluhannya. Demontrasi menjadi pilihan. Yang lebih memprihatinkan adalah saat kita menyadari bahwa demontrasi yang jadi pilihan itu masih dibarengi dengan kekerasan yang kian ditoleransi.Yang satu menghujat seorang tokoh bangsa. Menuduhnya melakukan tindak yang tidak pantas. Namun pantaskah kita bila menuntut keadilan dengan kekerasan? Demonstrasi yang tidak tepat dan tidak pada tempatnya serta lebih diiringi dengan emosi dan ambisi (pribadi) membuat tiang kehidupan berdemokrasi kita yang baru saja dibangun menjadi ambruk. Tak ada demokrasi dengan kekerasan. Tak ada demokrasi dalam kebrutalan. Tak ada demokrasi dalam kelabilan emosi. Tak pernah ada.
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Selalu teriak demokrasi...
Tapi bertndak tidak demokratif...

Premanisme Berseragam

Anton Medan bertanya, mana lebih banyak, orang salah di dalam penjara atau orang salah yang ada di luar penjara? Sindiran atas instruksi Kapolri untuk memberantas para preman.

Jika saya ada di acara reality show tersebut, saya pasti akan balik bertanya, menurut Anda, lebih banyak mana orang baik di luar penjara daripada orang jahat di luar penjara?

Musuh kita bukan mereka yang dipenjara, tapi orang jahat di luar penjara. Karena lebih banyak orang yang lebih senang jika tidak ada perilaku preman di lingkungannya.

Mereka menjadi preman karena mereka merasa masih banyak orang-orang baik dan itulah sumber penghasilannya. Kalo lebih banyak orang jahat daripada orang baiknya diluar penjara, siapa bisa dipremani? Jadi, lingkungan penjara yang sebagian besar orang jahat, akan sertamerta menghentikan perilaku premanismenya, bahkan dia bisa justru menjadi korban preman penjara.

Sudut pandang berbeda adalah, bahwa razia ini akan mengembalikan daerah kekuasaan palak pada preman berseragam dari cengkeraman preman bertato yang pada tiarap takut dirazia petugas.

Inilah masa panen mereka setelah sekian lama direbut atau terpaksa bagi hasil dengan preman bertato.

Jukir resmi yang menjual karcis parkir berulang-ulang, satpam perumahan dan perkantoran yang menarik parkir dan uang keamanan ilegal, bertambahnya ongkos pemantauan perumahan atau pertokoan ke kas polsek setempat. Termasuk duit lebih bagi petugas di jalan yang rawan macet oleh sopir yang ngetem, atau ongkos mel-melan yang naik di jembatan timbang antar kota atau terminal, karena tidak ada preman yang setor lagi pada mereka untuk sementara waktu. Atau justru karena tidak perlu bagi hasil lagi dengan mereka untuk sementara waktu.

Jukir resmi pemkot/swasta, petugas Dishub, petugas Polantas, petugas PD pasar, Satpam ruko/perum, Hansip kampung, Supir dan kondektur angkutan umum, petugas tiket tempat umum pemerintah/swasta. Saat ini mereka sedang memasuki masa panen.

Rakyat jelata, penjual di pasar, pengguna angkutan umum, penhuni Ruko dan Perumahan serta kampung, pengguna lahan parkir, pengantri tiket, pengguna fasilitas publik. Menjadi lebih merasa aman karena kemungkinan ditusuk dan dibogem lebih kecil oleh preman bertato, namun bisa jadi ongkos keamanan justru naik significant, karena mereka yang berseragam tersebut menjadi punya hak monopoli tarif tidak resmi, tidak ada kompetitor yang juga ditakuti jika duel person to person tanpa seragam.

Filosofinya, masih lebih banyak orang baik daripada orang jahat di luar penjara. Jadi, premanisme musti diberantas tuntas, mulai dari yang bertato hingga yang berseragam, bahkan hingga yang berdasi dan bersafari. Mereka sudah kerja, gaji sudah naik, dapat pensiun serta kemudahan kredit lagi. Masak masih malak orang lain? Begitu tidak bersyukurnya orang-orang seperti itu....

Tanpa Judul

Adakah orang akan bertanya akan aku ketika aku
tak pernah menulis satu kata?
Adakah orang akan mencari namaku ketika aku
tak pernah meninggalkan kesan?
tulisanku adalah diriku, diriku mustahil adalah tulisanku
jari-jariku bekerja dengan otakku
tapi tidak dengan diriku
diriku adalah kumpulan prilaku potensi dosa
diriku adalah susunan tulang daging darah
yang mungkin telah menyerap barang haram
diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengklaimnya
Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku?
Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis
sebab mereka mendapat teman dan musuh yang menghormati
ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku
harap aku bisa mendapat sapaan hormat yang sama
Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja
tak dapat bercengkrama dengan prilakuku yang
diproduksi oleh niatku yang subjektif
tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia
sementara aku tak pernah berbuat yang sama
kepada tulisanku....

Demokrasi Telah Mati

“Saya sudah tidak percaya lagi dengan demokrasi”, kata temanku tiba-tiba. “Demokrasi sudah terbukti tidak menyelesaikan permasalahan bangsa”, lanjutnya. “Buktinya dengan demokrasi sekarang ini, harga-harga masih saja mahal, cita-cita bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera belum juga terwujud!”, tegasnya.

Aku hanya mendengar argumen-argumennya yang sudah tidak percaya lagi dengan demokrasi. Secara pribadi, ada perasaan berkecamuk dalam hati. Ingin ku bantah perkataannya. Tapi mulut ini susah untuk berbicara. Padahal sudah meluap ide di kepala.

Beberapa waktu yang lalu, waktu acara diskusi capres tentang refleksi reformasi, ada juga yang pesimis dengan demokrasi. Kekacauan pilkada di berbagai daerahlah yang menyebabkan keraguan demokrasi cocok dengan Indonesia. Tetapi ada juga yang masih berharap dengan demokrasi. Menganggab bahwa berbagai macam konflik merupakan proses menuju demokrasi yang seutuhnya. Demokrasi memang harus dibayar mahal.

Berbeda lagi dengan di kampus umum. Media tentang penolakan demokrasi menjamur dimana-mana. Terutama dihembuskan oleh golongan Islam konservatif, yang beralasan bahwa demokrasi itu berasal dari barat, dan apapun yang berasal dari barat dianggap kafir dan sesat. Mereka menolak sistem itu karena sistem tersebut buatan manusia, tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Hanya sistem yang berasal dari Tuhanlah yang dapat menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan. Karena , yang paham dengan ciptaannya adalah sang pencipta itu sendiri. Alasan yang logis.

Tetapi, makanan demokrasi itu? Benarkah demokrasi itu sudah menjadi agama baru bagi penganutnya? Demokrasi itu mengalami berbagai macam evolusi. Dan bisa jadi demokrasi yang sekarang ini sudah jauh berbeda dengan bentuk awal ketika ide tentang demokrasi dihembuskan. Salah satu peserta Mapaba XXI PMII 1011 malah dengan lantang berargumen bahwa demokrasi di tiap negara itu berbeda-beda aplikasinya (padahal ku kira dia akan berargumen akan menjelek-jelekkan demokrasi, karena backgroundnya adlaah organisasi penggusung khilafah).

Perjalanan pembentukan demokrasi memang panjang. TIdak bisa kita lihat dari satu sisi saja. Tetapi dari segala aspek. Sistem ini tidaklah simpel. Karena pada dasarnya bertujuan untuk mengakomodir kepentingan masyarakat majemuk yang tidak sederhana pula.

Eits.. jangan beranggapan dulu aku ini antek-nya Amerika, tolong bedakan handphonedengan batu!